Jakarta, Laksara.id – Titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali meningkat. Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, dengan 122 titik terdeteksi dalam pemantauan terbaru.
Berdasarkan data Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan hingga Jumat (9/10/2026) pukul 21.00 WIB, secara nasional terdeteksi 437 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence). Jumlah tersebut bertambah 50 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencatat 387 titik.
Data dari satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20 menunjukkan kondisi yang berbeda di sejumlah wilayah. Kalimantan Tengah mencatat peningkatan dari 86 menjadi 122 titik, sementara Sumatera Selatan mengalami penurunan dari 130 menjadi 107 titik.
Di provinsi prioritas lainnya, Jambi meningkat dari 3 menjadi 15 titik, sedangkan Kalimantan Barat naik tipis dari 12 menjadi 13 titik. Kalimantan Selatan justru turun dari 37 menjadi 13 titik, sementara Riau tetap nihil hotspot.
Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas mencatat 270 hotspot, relatif stabil dibandingkan 268 titik pada hari sebelumnya. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi hotspot dapat bergeser antarwilayah meskipun jumlah gabungan di daerah prioritas tidak mengalami perubahan besar.
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit, bukan angka pasti kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar. Satu kejadian kebakaran juga dapat menghasilkan beberapa titik deteksi. Karena itu, setiap indikasi perlu diverifikasi melalui pemeriksaan langsung di lapangan atau groundcheck.
Operasi darat dan udara terus diperkuat
Pengendalian karhutla dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dan pihak terkait lainnya.
Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara. Sebanyak 17 unit digunakan untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sedangkan 44 unit disiapkan untuk operasi pemadaman melalui water bombing.
Operasi udara tersebut didukung penanganan di darat, meliputi patroli, verifikasi hotspot, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, serta pendinginan lokasi kebakaran.
Perhatian khusus diberikan pada kawasan gambut. Bara api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan tanah meskipun kobaran api sudah tidak terlihat. Oleh sebab itu, pembasahan dan pendinginan perlu dilakukan secara menyeluruh untuk mencegah api kembali muncul.
Kualitas udara dan kesehatan masyarakat dipantau
Selain penanganan api, kualitas udara berdasarkan konsentrasi PM2,5 juga menjadi perhatian pemerintah. Pemantauan terbaru menunjukkan sebagian wilayah Indonesia berada dalam kategori baik hingga sedang, tetapi sejumlah daerah di Sumatera, Kalimantan, dan Papua masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Di beberapa lokasi di Kalimantan dan Papua, masih terpantau kantong dengan kategori berbahaya. Kondisi tersebut dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran, konsentrasi partikulat, arah angin, serta dinamika atmosfer.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dan arahan pemerintah daerah. Ketika kondisi udara memburuk, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi. Penggunaan masker juga disarankan apabila harus beraktivitas di luar, terutama bagi anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.
Ratusan satwa liar di Kalimantan telah ditangani
Dampak karhutla terhadap satwa liar dan habitatnya juga menjadi perhatian. Berdasarkan rekap terakhir, sedikitnya 272 individu satwa di Kalimantan telah mendapatkan penanganan melalui penyelamatan atau evakuasi, translokasi, rehabilitasi, hingga penggiringan menuju habitat yang lebih aman.
Jumlah tersebut terdiri atas 105 individu di Kalimantan Selatan, 71 individu di Kalimantan Barat, 48 individu di Kalimantan Tengah, dan 48 individu di Kalimantan Timur.
Setiap laporan satwa terdampak ditindaklanjuti melalui verifikasi dan asesmen lapangan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) serta petugas terkait. Berdasarkan kondisi satwa, petugas menentukan langkah penanganan yang sesuai, mulai dari perawatan dan rehabilitasi hingga pemindahan atau pengembalian ke habitat yang aman.
Masyarakat yang menemukan satwa liar terluka, terjebak, terdampak kebakaran, atau memasuki permukiman diminta tidak melakukan evakuasi secara mandiri. Warga diimbau menjaga jarak, menghindari tindakan yang dapat membuat satwa stres atau agresif, serta segera melaporkan temuan kepada BKSDA atau petugas kehutanan terdekat.
Masyarakat diingatkan tidak membakar lahan
Kementerian Kehutanan kembali mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Perubahan jumlah hotspot dari hari ke hari menunjukkan bahwa kondisi karhutla bersifat dinamis. Penurunan di satu provinsi dapat terjadi bersamaan dengan peningkatan di wilayah lain. Karena itu, deteksi dini, verifikasi lapangan, kesiapsiagaan petugas, dan pelaporan masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran meluas serta melindungi kesehatan warga dan kelestarian satwa liar. (LA-IN)
