Gianyar, Laksara.id – Kain tenun tradisional Bali mendapat ruang baru untuk tampil di panggung industri kreatif. Kali ini, kain endek dan kain berciri khas Bali lainnya dipadukan dengan karya fesyen dan otomotif dalam Tuksedo Auto and Fashion Gala 2026 di Tuksedo Studio, Gianyar, Jumat (18/9/2026).
Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, pertemuan antara otomotif dan fesyen dapat menjadi ruang kreatif untuk memperkenalkan karya desainer sekaligus mengangkat kain tenun tradisional Bali sebagai bagian dari perkembangan industri mode.
Putri Koster berharap kegiatan yang memberikan ruang bagi desainer dan pelaku industri kreatif dapat dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan. Penguatan ekosistem fesyen Bali, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan upaya mengembangkan kain tradisional sebagai identitas budaya sekaligus produk yang memiliki nilai tambah.
“Teruslah digaungkan, angkat juga kearifan tenun tradisional kita, hingga suatu saat Bali tidak hanya terkenal karena tariannya, tidak hanya terkenal dengan tembangnya, tetapi suatu saat nanti Bali bisa menjadi kiblat mode dunia selain negara-negara di Eropa,” ujar Putri Koster.
Ia menyadari upaya menjadikan Bali sebagai salah satu pusat fesyen membutuhkan proses panjang. Karena itu, ruang berkarya, promosi, dan kolaborasi perlu terus diperluas agar karya desainer serta kain tradisional Bali semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.
Menurutnya, peluang tersebut sudah mulai terlihat dari kiprah sejumlah desainer Bali. Ia mencontohkan Nyoman Adi melalui TAKSU yang telah mendapat kesempatan memperkenalkan karya dalam agenda fesyen di luar negeri, termasuk Paris dan Jepang.
Pengalaman tersebut, kata Putri Koster, menunjukkan bahwa karya desainer Bali dan kain tradisional memiliki peluang untuk mendapatkan ruang di panggung internasional.
Karena itu, ia berharap semakin banyak desainer Bali yang tumbuh dan berani mengembangkan karya dengan tetap berpijak pada kekayaan budaya lokal.
“Semoga dari acara ini akan bangkit desainer-desainer Bali lainnya,” harapnya.
Ketika Otomotif dan Fesyen Berada di Satu Panggung
CEO Tuksedo Studio Pudji Handoko mengatakan Tuksedo Auto and Fashion Gala 2026 sekaligus menjadi momentum peluncuran First Lady, kendaraan yang dirancang di Bali dengan konsep terinspirasi mobil klasik era 1930-an dan pengaruh gaya Art Deco.
Peluncuran kendaraan tersebut kemudian dipadukan dengan peragaan busana yang menampilkan karya para desainer menggunakan kain tenun endek Bali dan kain berciri khas Bali lainnya.
Perpaduan otomotif dan fesyen tersebut menghadirkan ruang kolaborasi lintas bidang, dengan kekayaan budaya Bali menjadi salah satu unsur yang ditampilkan dalam karya kreatif.
Melalui dukungan terhadap kegiatan seperti Tuksedo Auto and Fashion Gala, Dekranasda Provinsi Bali terus mendorong pemanfaatan budaya lokal dalam industri kreatif.
Ruang kolaborasi antara perajin dan desainer diharapkan semakin terbuka sehingga kain tradisional Bali tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi produk kreatif dengan nilai tambah dan daya saing yang lebih luas. (LA-IN)
