Badung, LAKSARA.ID – Bimbingan teknis bertema Peningkatan Kapasitas dan Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup di Provinsi Bali mendorong masyarakat memperkuat keterlibatan dalam menjaga lingkungan, termasuk menyebarluaskan pesan pelestarian sungai melalui komunikasi langsung dan media sosial.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Ramada Bali Sunset Road, Kuta, Badung, Rabu (16/9/2026), tersebut menekankan pentingnya peningkatan kapasitas masyarakat agar tidak hanya terlibat dalam kegiatan bersih sungai, tetapi juga mampu mengomunikasikan dan mempromosikan gerakan lingkungan secara lebih luas.
Dosen Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana sekaligus praktisi pertanian organik, Ni Wayan Sri Sutari, SP, MP, mengatakan masyarakat yang sering beraktivitas di kawasan sungai dapat menjadi bagian dari promosi lingkungan secara alami.
Menurut dia, kawasan sungai yang telah tertata dan memiliki fasilitas pendukung, seperti tempat menikmati kopi dan arena bermain anak, dapat diperkenalkan lebih luas melalui keterlibatan masyarakat sekitar.
“Kalau kawasan sungai sudah tertata, ada kafe, kopi serta arena bermain anak, tentu bisa dipromosikan dengan melibatkan warga secara dari mulut ke mulut maupun melalui media sosial masing-masing,” ujar Sri Sutari.
Ia menjelaskan, komunikasi mengenai lingkungan tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan formal. Masyarakat, termasuk kelompok ibu-ibu, dapat berperan sebagai penyampai informasi sekaligus membantu membangun kesadaran mengenai pentingnya menjaga kebersihan sungai.
Selain memperkuat kemampuan komunikasi, kegiatan tersebut juga menjadi sarana membangun jejaring antarpeserta. Relasi yang terbentuk diharapkan dapat berkembang menjadi kerja sama yang berkelanjutan dalam pengelolaan lingkungan.
“Dengan diadakannya bimtek maka terjalin networking antara peserta sehingga ke depan ada jalinan relasi dan hubungan berkesinambungan. Harapannya, pesan untuk tidak membuang sampah di sungai semakin teredukasi kepada masyarakat,” katanya.
Komunikasi Lingkungan Berbasis Cerita
Sri Sutari juga mendorong peserta memanfaatkan foto dan video sebagai sarana menyampaikan pesan lingkungan. Konten yang dibuat, menurut dia, sebaiknya tidak berhenti pada dokumentasi kegiatan, tetapi memiliki alur cerita yang mampu menyampaikan pesan secara singkat dan kuat.
Materi visual dapat digunakan untuk memperkenalkan kegiatan lingkungan sebelum, saat, maupun setelah aksi dilakukan. Pendekatan tersebut diharapkan mendorong masyarakat menjadi relawan, mitra, dan pendukung gerakan pengelolaan lingkungan.
Sementara itu, Koordinator Penasihat Yayasan Tukad Bindu, I Gusti Rai Ari Temaja, menilai pengelolaan lingkungan membutuhkan kesepahaman dan kolaborasi berbagai pihak.
Pria yang akrab disapa Gung Nik itu mengatakan bimtek menjadi momentum untuk menata pola komunikasi sekaligus membangun titik temu di antara unsur pentahelix dalam pengelolaan lingkungan.
“Bimtek ini merupakan kegiatan spontan untuk tujuan menata pola komunikasi. Diharapkan ada titik temu kesepahaman antara pentahelix tentang lingkungan,” katanya.
Ia mencontohkan pengelolaan Tukad Bindu yang menurutnya tidak berhenti pada persoalan kebersihan sungai. Setelah kawasan sungai ditata, masyarakat kemudian didorong memanfaatkannya untuk kegiatan yang memberikan nilai tambah.
“Rata-rata sungai di kota itu tercemar, kumuh dan tidak terawat. Namun, hal berbeda terlihat di Tukad Bindu karena di masyarakat telah tertanam tanggung jawab,” ujarnya.
Menurut Gung Nik, kebersihan sungai menjadi tahap awal. Setelah sungai bersih, muncul pertanyaan mengenai bagaimana kawasan tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Setelah sungai bersih, mau diapakan? Jawabannya pemberdayaan ekonomi. Jadi prinsip Tukad Bindu adalah menyejahterakan masyarakat seutuhnya. Dari sisi ekonomi, sosial, budaya, edukasi, semuanya masuk di sana,” katanya.
Pendekatan pengelolaan Tukad Bindu tersebut disebut mulai direplikasi di sedikitnya empat ruas sungai lainnya di Bali.
Tukad Bindu Dikembangkan Multifungsi
Penasihat Yayasan Tukad Bindu, I Gusti Ketut Ari Sudewa, mengatakan pengelolaan sungai berbasis masyarakat membuka peluang pemanfaatan kawasan sebagai ruang publik yang memiliki fungsi sosial, edukasi dan ekonomi.
“Tukad Bindu menunjukkan bahwa ketika masyarakat ikut memiliki dan menjaga sungai, kawasan ini bisa berkembang bukan hanya sebagai tempat yang bersih, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar, beraktivitas dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Tukad Bindu yang berada di Kesiman, Denpasar Timur, dikembangkan sebagai kawasan sungai sekaligus ruang publik berbasis lingkungan dan dikelola komunitas melalui Yayasan Tukad Bindu.
Kawasan tersebut dilengkapi area bermain anak, fasilitas olahraga dan jogging track. Lingkungan yang tertata dan suasana alami menjadi bagian dari daya tarik kawasan.
Selain fungsi rekreasi, Tukad Bindu dimanfaatkan sebagai sarana edukasi lingkungan. Sejumlah sekolah dan perguruan tinggi menggunakan kawasan tersebut untuk kegiatan pembelajaran, termasuk terkait pertanian dan pemanfaatan sumber daya lingkungan.
Kawasan tersebut juga memiliki co-working space dengan fasilitas Wi-Fi gratis. Fasilitas itu menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk bertukar pikiran dan beraktivitas sambil menikmati suasana sekitar sungai.
Pengunjung juga dapat bersantai di tepian sungai sembari menikmati kudapan. Sejumlah sudut kawasan dimanfaatkan sebagai ruang kegiatan dan lokasi foto dengan suasana alami.
Pengalaman Tukad Bindu memperlihatkan bahwa pengelolaan sungai dapat diperluas dari sekadar menjaga kebersihan menjadi pengembangan ruang edukasi, rekreasi, interaksi sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Melalui bimtek tersebut, masyarakat diharapkan semakin memiliki kapasitas untuk menjaga lingkungan sekaligus menyampaikan pesan pelestarian melalui berbagai saluran komunikasi. Pemanfaatan media sosial, penguatan jejaring dan kolaborasi berbagai unsur masyarakat menjadi bagian dari upaya memperluas gerakan pengelolaan lingkungan hidup secara berkelanjutan. (LA-Sugita)
