Denpasar, Laksara.id – Menjaga kain tenun Endek Bali tidak cukup hanya dengan memperluas penggunaannya. Di balik kain yang semakin dikenal, ada proses panjang yang perlu dijaga, mulai dari produksi, motif, kualitas, hingga pemasaran.
Hal tersebut disampaikan Ketua Dekranasda Provinsi Bali Putri Koster saat menghadiri Journey of Wastra, serangkaian HUT ke-36 Discovery Kartika Plaza Hotel, di Beach Gate Discovery Kartika Plaza Hotel, Badung, Jumat (2/10).
Putri Koster menegaskan, perlindungan Endek Bali harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Menurutnya, ketika Endek semakin diangkat melalui promosi dan penggunaan, proses produksi serta karakter wastra tersebut juga harus tetap berada dalam koridor yang menjaga identitas budaya Bali.
“Untuk menjaga keberadaan kain tenun tradisional Endek Bali, harus ada upaya perlindungan dari hulu hingga hilir. Ketika di hilir keberadaannya mulai diangkat, maka di hulu dan bagian tengahnya juga harus dijaga,” ujarnya.
Ia mengingatkan agar peningkatan produksi tidak justru membuat Endek kehilangan karakter dan identitasnya sebagai warisan leluhur. Setiap daerah di Nusantara, kata dia, memiliki kekayaan wastra dengan ciri khas masing-masing yang perlu dipertahankan.
Selain proses produksi, perlindungan terhadap ide, desain, dan motif karya perajin juga menjadi perhatian. Putri Koster mendorong agar regulasi serta penegakan hukum terkait kekayaan intelektual benar-benar berjalan sehingga karya perajin tidak digunakan pihak lain tanpa memperhatikan hak penciptanya.
“Kalau ada yang memiliki ide dan motif kemudian diambil oleh pihak lain, aturan dan sanksinya harus ditegakkan. Kalau kita diam saja, kita akan semakin kehilangan warisan kita,” tegasnya.
Dari sisi ekonomi, Putri Koster juga menekankan pentingnya mempertemukan perajin dengan pasar. Dekranasda Provinsi Bali menyediakan ruang di Art Center sebagai salah satu wadah pemasaran produk kerajinan lokal agar karya perajin memiliki akses pasar yang lebih luas.
Menurutnya, meningkatnya permintaan terhadap Endek dapat menjadi peluang bagi perajin untuk meningkatkan produksi sekaligus mengembangkan kreativitas dan variasi motif. Namun, peningkatan kuantitas tetap harus berjalan seiring dengan kualitas dan karakter Endek dari daerah asalnya.
Keberlanjutan Endek juga tidak terlepas dari regenerasi konsumen. Generasi muda dinilai perlu diperkenalkan dan didorong untuk mencintai produk lokal, kemudian diberi ruang untuk mengembangkan penggunaannya sesuai selera dan perkembangan fesyen tanpa menghilangkan identitas wastra tersebut.
“Anak-anak muda harus kita ajarkan mencintai produk lokal terlebih dahulu. Setelah itu, biarkan mereka menggunakan dan mengembangkannya sesuai selera masing-masing, tetapi tetap dengan bahan Endek yang kita miliki,” katanya.
Putri Koster turut mendorong penguatan kolaborasi antara Dekranasda Provinsi Bali, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta para pemangku kepentingan lainnya. Masing-masing pihak diharapkan menjalankan tugas dan kewenangannya, termasuk dalam perlindungan kekayaan intelektual dan penegakan ketentuan yang berlaku.
Sementara itu, Journey of Wastra menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan wastra Bali kepada masyarakat luas, termasuk wisatawan mancanegara. Kegiatan tersebut diisi pameran karya perajin IKM Bali, membatik, talk show, serta peragaan busana.
Melalui kegiatan tersebut, wastra Bali tidak hanya diharapkan tetap hidup sebagai bagian dari identitas budaya, tetapi juga berkembang menjadi produk bernilai tambah yang mampu mendukung kesejahteraan perajin dan pelaku industri kreatif. (LA-IN)
