Kamis, Oktober 1, 2026
BerandaJakartaHotspot Karhutla Melonjak, 254 Satwa Tercatat dalam Penanganan Dampak Bencana

Hotspot Karhutla Melonjak, 254 Satwa Tercatat dalam Penanganan Dampak Bencana

Jakarta, Laksara.id – Pemantauan terbaru menunjukkan peningkatan hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Di tengah penguatan operasi pemadaman dan pembasahan, dampak terhadap satwa liar dan habitatnya juga menjadi perhatian Kementerian Kehutanan.

Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Selasa (29/9) pukul 21.10 WIB, terdeteksi 893 hotspot high confidence secara nasional. Angka tersebut meningkat dibandingkan pemantauan sehari sebelumnya yang mencatat 365 titik.

Di enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, Sumatera Selatan mencatat 266 hotspot, meningkat dari 96 titik. Kalimantan Tengah mencapai 132 titik dari sebelumnya 37 titik, sedangkan Jambi naik menjadi 75 titik dari 25 titik.

Kalimantan Barat yang sehari sebelumnya nihil hotspot high confidence tercatat 30 titik. Kalimantan Selatan naik dari 4 menjadi 28 titik. Sementara Riau masih nihil hotspot high confidence.

Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah menjadi dua wilayah dengan jumlah hotspot terbesar di antara enam provinsi prioritas. Tim di lapangan terus melakukan groundcheck untuk memastikan kondisi aktual sekaligus menentukan penanganan yang diperlukan.

Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot tidak dapat disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas area yang terbakar. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP dan NOAA-20.

Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa titik hotspot sehingga setiap indikasi tetap membutuhkan verifikasi melalui pemeriksaan lapangan.

Operasi Darat dan Udara Diperkuat

Pengendalian karhutla dilakukan secara terpadu dengan melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha dan berbagai pihak lainnya.

Sebanyak 61 unit armada udara disiagakan untuk mendukung operasi. Jumlah tersebut terdiri dari 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta 44 unit untuk water bombing.

Sebanyak 55 armada ditempatkan untuk mendukung enam provinsi prioritas, sementara armada lainnya digunakan untuk mendukung operasi di wilayah yang membutuhkan.

Operasi udara berjalan bersamaan dengan patroli darat, pemeriksaan titik panas, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up dan pendinginan.

Lahan gambut mendapat perhatian khusus karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan meskipun api di permukaan telah berkurang.

Asap Masih Jadi Perhatian

Pemantauan berbasis konsentrasi PM2,5 menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah di Kalimantan dan beberapa bagian Sumatera masih berada pada kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Masyarakat di wilayah terdampak asap diminta mengikuti perkembangan kondisi udara dan arahan pemerintah daerah. Jika kualitas udara memburuk, aktivitas di luar ruangan perlu dikurangi dan masker digunakan apabila harus beraktivitas di luar.

Perhatian lebih juga diperlukan terhadap anak-anak, ibu hamil, lansia serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.

254 Individu Satwa Masuk Penanganan

Dampak karhutla tidak berhenti pada kawasan hutan. Kebakaran juga dapat mengganggu habitat, ruang jelajah dan sumber pakan satwa liar, sekaligus meningkatkan risiko keselamatan satwa.

Berdasarkan rekap Kementerian Kehutanan hingga 29 September 2026, tercatat 254 individu satwa dalam keseluruhan data penanganan dampak bencana alam sepanjang tahun 2026.

Penanganan tersebut mencakup berbagai tindakan sesuai kondisi satwa di lapangan, mulai dari rescue atau evakuasi, pemeriksaan dan perawatan, rehabilitasi, translokasi, pelepasliaran hingga penggiringan menuju habitat yang lebih aman.

Sejumlah satwa yang tercatat dalam penanganan antara lain Orangutan Kalimantan, Bekantan, Trenggiling, Kukang, Kucing Kuwuk, Lutung Kelabu dan Beruang Madu.

Pada Orangutan Kalimantan, misalnya, individu yang ditemukan di wilayah terdampak dapat dievakuasi untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan. Satwa yang membutuhkan rehabilitasi ditempatkan di fasilitas rehabilitasi, sementara individu yang memenuhi persyaratan dapat ditranslokasikan atau dikembalikan ke habitat yang sesuai.

Pada kondisi tertentu, petugas juga melakukan penggiringan kelompok Bekantan menuju habitat yang lebih aman agar menjauh dari kawasan terdampak atau berisiko mengalami kebakaran.

Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat yang menemukan satwa liar terdampak kebakaran, terluka, terjebak atau masuk ke kawasan permukiman untuk tidak melakukan penanganan sendiri.

Masyarakat diminta menjaga jarak, menghindari tindakan yang dapat membuat satwa stres atau agresif, mencatat lokasi dan kondisi satwa apabila memungkinkan, kemudian segera melaporkannya kepada Balai KSDA atau petugas kehutanan terdekat.

Di tengah meningkatnya hotspot di sejumlah wilayah, penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api. Perlindungan masyarakat, hutan dan satwa liar menjadi bagian dari upaya yang harus berjalan bersamaan. (LA-IN)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments