Sabtu, September 12, 2026
BerandaJakartaKarhutla Meningkat di Kalimantan, Tiga Helikopter Chinook Jepang Perkuat Operasi Water Bombing

Karhutla Meningkat di Kalimantan, Tiga Helikopter Chinook Jepang Perkuat Operasi Water Bombing

Jakarta, Laksara.id – Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di sejumlah wilayah Kalimantan yang masih menunjukkan konsentrasi hotspot cukup tinggi.

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Jumat (11/9/2026) pukul 21.15 WIB, secara nasional terdeteksi 688 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence. Angka tersebut meningkat dibandingkan 569 titik pada Kamis (10/9/2026).

Dari enam provinsi yang menjadi prioritas pengendalian karhutla, Kalimantan Tengah mencatat jumlah hotspot tertinggi dengan 271 titik, meningkat dari 96 titik pada pemantauan sebelumnya.

Kalimantan Barat juga mengalami peningkatan dari 39 menjadi 51 titik, sedangkan Kalimantan Selatan naik dari 9 menjadi 47 titik. Sementara itu, Sumatera Selatan mencatat penurunan dari 34 menjadi 11 titik.

Perkembangan lebih baik terlihat di Riau dan Jambi. Riau yang sebelumnya mencatat 18 hotspot kini tidak memiliki hotspot high confidence, sementara Jambi turun dari 2 titik menjadi nihil.

Kondisi tersebut membuat perhatian pengendalian saat ini terutama diarahkan ke wilayah Kalimantan Tengah, disusul penguatan operasi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan. Meski kondisi di sejumlah wilayah Sumatera membaik, patroli dan upaya pencegahan tetap dilakukan karena situasi karhutla dapat berubah mengikuti cuaca dan kondisi bahan bakar di lapangan.

Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak otomatis menunjukkan adanya satu kejadian kebakaran. Satu kejadian kebakaran juga dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot.

Karena itu, setiap indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi aktual di lapangan. Manggala Agni bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha dan para pihak lainnya terus melakukan patroli, pemadaman darat, penyekatan penjalaran api, mopping up, hingga pendinginan.

Penguatan juga dilakukan dari sisi operasi udara. Pemerintah sebelumnya telah menyiagakan 53 unit armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas.

Dari jumlah tersebut, 34 armada digunakan untuk operasi water bombing, sementara 19 armada lainnya menjalankan patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Kini kemampuan operasi udara diperkuat melalui dukungan Pemerintah Jepang berupa tiga helikopter CH-47 Chinook milik Japan Ground Self-Defense Force (JGSDF). Ketiga helikopter tersebut dibawa menggunakan kapal JMSDF JS Kunisaki yang telah tiba di Terminal Kijing, Kalimantan Barat.

Helikopter Chinook tersebut dipersiapkan untuk mendukung pemadaman karhutla melalui operasi water bombing. Sebelum digunakan, kesiapan teknis dan aspek keselamatan penerbangan dipastikan melalui sejumlah tahapan persiapan dan flight test.

Dukungan Jepang juga melibatkan sekitar 180 personel. Dalam pelaksanaannya, pengawasan operasional helikopter berada pada TNI, termasuk aspek keamanan, flight clearance, dan penempatan Safety Officer. Sementara itu, misi penerbangan dikoordinasikan bersama BNPB.

Dukungan tersebut merupakan bagian dari kerja sama Indonesia dan Jepang di bidang Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR). Kehadiran tiga Chinook diharapkan memperkuat kemampuan pemadaman udara, khususnya untuk menjangkau wilayah kebakaran yang sulit ditangani melalui operasi darat.

Pengerahan armada udara dilakukan berdasarkan perkembangan hotspot, hasil verifikasi lapangan, kondisi kebakaran, serta kondisi meteorologis. Operasi Modifikasi Cuaca juga tetap disiagakan untuk memanfaatkan potensi awan yang memenuhi persyaratan guna membantu pembasahan lahan.

Khusus di ekosistem gambut, upaya pemadaman, pembasahan, dan pendinginan dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan meskipun api tidak lagi terlihat.

Selain kondisi kebakaran, pemerintah juga terus memantau kualitas udara. Berdasarkan pemantauan PM2,5, kondisi udara di Indonesia masih bervariasi. Sebagian besar wilayah berada pada kategori baik hingga sedang, namun sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan masih menunjukkan kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Di beberapa bagian Kalimantan bahkan masih terpantau kategori berbahaya.

Kondisi tersebut terus dipantau bersama perkembangan hotspot, kondisi api di lapangan, sebaran asap, curah hujan, dan kondisi meteorologis untuk menentukan prioritas operasi.

Informasi BMKG pada Jumat (11/9/2026) juga menunjukkan jarak pandang di sejumlah wilayah masih bervariasi. Di Pontianak, pemantauan di kawasan Pelabuhan Dwikora menunjukkan kondisi udara kabur dengan jarak pandang sekitar 1-3 kilometer pada beberapa periode pengamatan.

Sementara di Banjarmasin, kondisi udara juga sempat kabur dengan jarak pandang sekitar 4 kilometer pada awal periode, kemudian membaik hingga sekitar 10 kilometer seiring perubahan kondisi cuaca.

Pemerintah menegaskan kondisi jarak pandang bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti konsentrasi asap, arah serta kecepatan angin, kelembapan, hujan, dan perkembangan kebakaran. Karena itu, hotspot tidak menjadi satu-satunya indikator dalam menentukan langkah penanganan.

Kementerian Kehutanan bersama seluruh pihak terkait terus melakukan pengendalian secara terpadu untuk mempercepat penanganan karhutla sekaligus mengurangi dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan.

Masyarakat juga diimbau tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Jika menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran, masyarakat diminta segera melaporkannya agar dapat ditindaklanjuti sedini mungkin. (LA-IN)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments