Jumat, Juli 12, 2024
BerandaDenpasarPidananya Mulai Telihat, Kuasa Hukum Korban Berharap Tedakwa Dihukum Berat

Pidananya Mulai Telihat, Kuasa Hukum Korban Berharap Tedakwa Dihukum Berat

DENPASAR, LAKSARA.ID – Sidang kasus dugaan penipuan dan penggelapan dengan terdakwa Stephanus Irawan alias Tommie Liem (44), Kamis (9/9/2021) kembali berlanjut di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar dengan agenda permeriksaan saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Ada tiga orang saksi yang dihadirkan JPU Fajar Said dalam sidang yang berlangsung secara tatap muka yang dipimpin oleh hakim Angeliki Handajani Day. Mereka adalah Pangky Wibowo (saksi korban), Antonius serta pemilik lahan Made Sukertia.

Di muka sidang, saksi korban mengatakan kepada majelis hakim bahwa mengenal terdakwa karena dikenalkan oleh saksi Edo Suweta. Diketahui, dalam perkara ini Edo Suweta juga menjadi korban. “Saya dikenalkan kepada terdakwa oleh saksi Edo saat makan malam bersama di daerah Petitenget,” ujar saksi mengawali kesaksianya.

Setelah perkenalan itu, Saksi Pangky Wibowo mengatakan tidak pernah bertemu dengan terdakwa. “Tiba-tiba di bulan Maret 2019 terdakwa menghubungi saya dan menawarkan saya untuk menjadi investor dalam salah satu usahanya, tapi saat itu saya menolak dengan alasan bukan bidang saya,” katanya Pangky Wibowo.

Namun karena terdakwa terus mendesak, akhirnya saksi pun bertemu dengan terdakwa di Warung Makan Babi Guling Jalam Imam Bonjol Denpasar pada tanggal 26 Maret 2019. Dalam pertemuan itu menurut saksi, terdakwa menyampaikan bahwa dia memiliki proyek rumah makan Gang Mango.

Selain itu terdakwa juga mengatakan bahwa salah satu pemilik modal yaitu atas mana Edo Suweta berencana menjual saham kepemilikannya sebanyak 10 persen senilai Rp 785.546.800 dengan alasan sedang butuh dana untuk membuka klinik baru. Mendengar itu, saksi sempat mengatakan kepada terdakwa kenapa tidak membeli saja saham Edo yang hanya 10 persen.

Di sini terdakwa berkelit bahwa uang miliknya difokuskan untuk persiapan pembukaan restaurant yang direncanakan pada akhir April 2019, serta mengatakan bahwa tanah tempat usahan restorant Gang Mango sudah disewa selama 10 tahun dan sudah pula terbayar lunas. Mendengar perkataan terdakwa, korban pun tertarik dan akhirnya menyerahkan uang sebesar Rp 785.546.800.

Namun apa yang terjadi?, semua yang idikatakan terdakwa kepada saksi tidak semuanya terealisasi. Bahkan sewa lahan yang dikatakan sudah dibayar selama 10 tahun dibantah oleh ahli waris tanah saat bersaksi di muka sidang. “Dalam perjanjian memang tanah dikontrak selama 10 tahun, tapi faktanya hanya dibayar selama tiga tahun terhitung sejak tahun 2019 hingga 2021,” ungkap Made Sukertia.

Melihat kondisi ini, Rini Muchtar Managing Director pada Kantor Hukum Muchtar Arifin & Partners selaku kuasa hukum korban mengatakan bahwa, tidak pidana penipuan atau penggelapan yang dilakukan oleh terdakwa sudah terlihat sangat terang benderang.

“Terdakwa mengatakan bahwa lahan yang nantinya akan dibangun restaurant sudah disewa dan dibayar lunas 10 tahun , tapi pada kenyataannya hanya disewa 3 tahun. Ahli waris pemilik tanah yang hadir dalam sidang mengatakan terdakwa hanya membayar sebesar Rp 856 juta bukan Rp 3 miliar seperti yang dikatakan kepada klien kami, jadi dari sini saja pidananya sudah nampak,” ujarnya melalui sambungan telepon, Kamis (9/9/2021).

Atas kondisi ini, Rini Muchtar mengaku, sebagai kuasa hukum korban (Edo Suweta dan Pangky Wibowo) akan mengawal kasus ini dan melakukan semua kemungkinan yang tentu saja masih berada dalam koridor hukum untuk mencari keadilan.”Kami akan memperjuangkan keadilan bagi klien kami sampai di manapun, dan apa yang akan kami lakukan tentu saja masih dalam jalur hukum yang ada,” tegasnya.

Sementara disinggung soal tidak dilakukannya penahanan rutan terhadap terdakwa, Rini Muchtar mengaku kecewa. Tapi lebih kecewa lagi karena dia miliki bukti bahwa terdakwa telah melanggar status sebagai tahanan rumah. “ Kami mendapat informasi bahwa selama dalam masa tahanan rumah ini terdakwa masih bebas bepergian. Ada kok buktinya di postingan media sosial, baik yang diposting terdakwa maupun orang lain yang kebetulan bersama dengan terdakwa,” terang Rini Muchtar.

Terkait temuan ini, Rini Muchtar mengatakan bahwa pihaknya sudah bersurat kepada jaksa maupun majelis hakim, dan hingga saat ini sedang menunggu jawaban. “Kami berharap karena terdakwa sudah melanggar status sebagai tahan rumah, majelis hakim segara memerintahkan jaksa untuk menetapkan terdakwa agar menjalani penahan rutan,” harapnya tegas.

Yang terakhir, Rini Muchtar berharap kepada majelis hakim agar melihat kasus ini dengan hati nurani dan berdasarkan kebenaran. hakim dapat menilai bahwa dalam perkara ini pendirian perusahaan yang ditawarkan terdakwa kepada para korban ini hanya merupakan modus dari kejahatannya atau penipuannya.

Bahkan kata dia lagi, dalam persidangan telah terungkap bahwa terdakwa tidak hanya melakukan aksi nya kepada Edo dan Pangky, namun juga kepada orang-orang lain yang diketahui langsung oleh para saksi baik dalam hubungan nya dengan CV Gang Mango maupun usaha lainnya yang notabene dikelola oleh terdakwa.

Saksi Pangky mengungkapkan dalam Gang Mango sendiri total dana yang digelontorkan oleh korban-korban lain yang diketahui nya sebesar 5,1 Milyar. “ Maka dari itu kami berharap majelis hakim tidak sekonyong-konyong menilai bahwa ini bukan perkara pidana sehingga hukuman ringan.
Kita ini kan semua warga negara yang harus taat hukum, jadi jika orang yang seperti terdakwa ini dibiarkan atau tidak dihukum dengan sepantasnya maka hukum di negara kita ini akan sulit untuk dihormati,” pungkasnya. (LA-DP).

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments