Rabu, September 30, 2026
BerandaNasionalBukan Sekadar Menjaga Gajah, Bukit Tigapuluh Perkuat Koridor dan Ruang Hidup Satwa

Bukan Sekadar Menjaga Gajah, Bukit Tigapuluh Perkuat Koridor dan Ruang Hidup Satwa

Jambi, Laksara.id – Menjaga Gajah Sumatra di Lanskap Bukit Tigapuluh tidak cukup hanya dengan melindungi kawasan. Koridor habitat dan ruang jelajah satwa juga perlu tetap terhubung agar gajah dapat bergerak, mencari pakan, menemukan sumber air hingga berkembang biak secara alami.

Upaya tersebut terus diperkuat pemerintah bersama berbagai pihak di Lanskap Bukit Tigapuluh yang berada di wilayah Jambi dan Riau. Perlindungan kawasan diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekologis Gajah Sumatra, keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam dan kehidupan masyarakat di sekitar habitat.

Perhatian terhadap upaya tersebut disampaikan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat meninjau Pusat Informasi Konservasi Gajah (PIKG) Tebo di Desa Muara Sekalo, Kabupaten Tebo, Jambi.

Dalam kunjungan tersebut, Menhut didampingi Gubernur Jambi Al Haris, Penasihat Utama Menteri Kehutanan Dr. Willie Smits, Sekretaris Daerah Kabupaten Tebo Sindi dan Direktur Perencanaan Konservasi Ammy Nurwati.

Menurut Menhut, ruang jelajah Gajah Sumatra melintasi berbagai fungsi kawasan, wilayah kelola dan aktivitas masyarakat. Karena itu, konservasi gajah membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar perlindungan kawasan.

“Penegakan hukum itu penting. Tapi pada saat yang bersamaan, kita juga harus memberikan alternatif kepada mereka. Apa alternatif yang ideal yang bisa kita tawarkan kepada mereka? Saya kira ini bagian dari pemberdayaan masyarakat yang harus dibicarakan dengan baik-baik. Karena bagaimanapun, melindungi kawasan seperti ini juga harus melibatkan masyarakat,” ujar Raja Juli Antoni.

Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting karena aktivitas manusia dan ruang jelajah gajah dapat saling bersinggungan. Pemberdayaan dan alternatif mata pencaharian diharapkan dapat membantu mengurangi tekanan terhadap habitat sekaligus menekan potensi interaksi negatif antara manusia dan satwa liar.

Gubernur Jambi Al Haris juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan tersebut. Menurutnya, perlindungan gajah perlu berjalan bersama dengan perhatian terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar habitat.

“Yang dilakukan di sini luar biasa, mulai dari merawat gajah, menanam rumput untuk pakannya, hingga memberikan edukasi. Yang juga penting, tadi Pak Menteri langsung menyerap aspirasi masyarakat terkait kondisi gajah. Jadi bagaimana gajah kita tetap dijaga, tetapi masyarakat di sekitarnya juga diperhatikan,” ujar Al Haris.

Koridor Gajah Diperkuat Lewat Kolaborasi

Perlindungan Lanskap Bukit Tigapuluh juga diperkuat melalui PROTECT30 atau Promoting Sustainable Landscape Management through Biodiversity Conservation and Forest Positive Action in the Bukit Tigapuluh Landscape.

Inisiatif ini melibatkan kolaborasi multipihak, antara lain Proforest, Yayasan WWF-Indonesia dan KKI Warsi, dengan dukungan APP Group serta koordinasi bersama pemerintah, pengelola kawasan, masyarakat, sektor swasta dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Kegiatan tersebut turut melibatkan BKSDA Jambi, Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh, pemerintah daerah dan masyarakat.

Program diarahkan untuk memperkuat perlindungan dan pemulihan habitat, menjaga konektivitas ruang jelajah Gajah Sumatra, meningkatkan kapasitas masyarakat, mengembangkan alternatif mata pencaharian serta memperkuat tata kelola lanskap.

Salah satu intervensi yang dilakukan adalah pengayaan pakan gajah pada area sekitar 2,8 hektare. Area tersebut ditanami tebu, pisang, nanas dan rumput gajah untuk meningkatkan ketersediaan pakan sekaligus mendukung kualitas habitat.

Dalam kesempatan tersebut, konsorsium PROTECT30 juga memaparkan perkembangan program dan rencana kerja, termasuk pemantauan habitat dan jalur pergerakan gajah, peningkatan kualitas habitat serta penguatan tata kelola lanskap.

Kementerian Kehutanan menilai pendekatan berbasis lanskap penting karena ruang hidup Gajah Sumatra tidak mengenal batas administrasi maupun batas satu kawasan konservasi. Karena itu, perlindungan koridor membutuhkan konektivitas antarkawasan, koordinasi lintas wilayah, pertukaran data, pemantauan lapangan dan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.

Menjaga koridor pada akhirnya bukan hanya soal memastikan gajah tetap memiliki ruang untuk bergerak. Upaya tersebut juga menjadi bagian dari menjaga keseimbangan lanskap agar konservasi satwa, keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat dapat berjalan berdampingan. (LA-IN)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments