Jumat, Oktober 23, 2026
BerandaNasionalRumahnya Ludes Terbakar, Kakek Meninggal, Sempat Lumpuh 6 Bulan: Linus Tetap Memilih...

Rumahnya Ludes Terbakar, Kakek Meninggal, Sempat Lumpuh 6 Bulan: Linus Tetap Memilih Menyelamatkan Hutan

Kalimantan, Laksara.id – Ia telah menyelamatkan orangutan, merawat satwa liar, dan ikut memadamkan kebakaran hutan selama bertahun-tahun. Namun, ketika api melahap rumah keluarganya sendiri dan merenggut nyawa sang kakek, Paulinus Kristianto atau Linus sempat merasa seluruh perjuangannya sia-sia.

Di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali mengancam Kalimantan pada 2026, Linus tetap berada di lapangan. Bersama Manggala Agni Kementerian Kehutanan dan tim gabungan, ia membantu mengendalikan api sekaligus mengevakuasi satwa liar yang kehilangan habitatnya.

Linus merupakan pendiri Conservation Action Network (CAN) Borneo. Lebih dari 16 tahun ia mengabdikan diri sebagai relawan karhutla dan konservasi satwa. Baginya, hutan bukan sekadar tempat bekerja, melainkan bagian dari kehidupan yang telah dikenalnya sejak kecil.

Ia lahir dari keluarga suku Dayak dan tumbuh di Dusun Laung, Kecamatan Seberuang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Desa terpencil yang berada di tengah kawasan hutan lindung itu membentuk kedekatannya dengan alam sejak dini.

“Waktu SD, saya harus jalan kaki dua jam dari rumah melewati ladang dan hutan. Jadi berangkat jam empat pagi, nanti sampai sekolah sekitar jam enam,” kenang Linus saat berbincang, Rabu (21/10/2026).

Kedekatan dengan hutan membawanya masuk ke dunia konservasi setelah lulus SMA pada 2010. Ia memulai perjalanan bersama Yayasan Kobus di Sintang, yang kemudian melahirkan pusat rehabilitasi Sintang Orangutan Center (SOC).

Sejak saat itu, Linus mendedikasikan hidupnya untuk merawat orangutan dan beruang madu. Pekerjaannya membawanya menjelajahi berbagai kawasan hutan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, hingga Kalimantan Timur.

Namun, pengabdian itu tidak selalu berjalan mudah.

Kehilangan yang Membuatnya Ingin Menyerah

Ujian berat datang pada 2015, ketika fenomena El Niño memicu kebakaran hutan hebat. Saat itu, Linus sedang membantu memadamkan api di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

Sekitar pukul satu siang, telepon genggamnya berdering. Dari ujung sambungan, sang kakek menyampaikan kabar bahwa rumah keluarga mereka di Kalimantan Barat telah ludes terbakar.

“Linus, rumah kita terbakar habis. Tapi enggak usah khawatir, selama masih ada hutan, rumah kita bisa dibangun lagi karena kita bangun rumah pakai kayu,” tutur Linus menirukan ucapan sang kakek.

Pesan itu sempat menjadi penguat. Namun, ketika Linus kembali mendapatkan sinyal sekitar pukul enam sore, kabar berikutnya justru menghancurkan hatinya. Sang kakek meninggal dunia saat ikut berupaya memadamkan api di rumah mereka.

Keesokan harinya, Linus mengendarai mobil seorang diri dari Kalimantan Tengah menuju Kalimantan Barat. Ia tiba sekitar pukul sebelas malam, menjelang pemakaman sang kakek.

Di hadapan pusara orang yang sangat disayanginya itu, Linus merasa kehilangan arah. Selama ini, ia telah berjuang menyelamatkan satwa dan menjaga hutan, tetapi merasa tidak mampu melindungi keluarganya sendiri.

“Saya bersumpah di depan kuburan kakek saya, saya tidak mau di konservasi lagi. Sudah berapa banyak orangutan saya selamatkan, berapa banyak pohon saya tanam, tapi keluarga sendiri tidak bisa saya selamatkan,” ujarnya.

Linus sempat berpamitan kepada rekan-rekannya dan berniat meninggalkan dunia konservasi. Namun, teman-temannya tidak membiarkannya menyerah begitu saja.

Mereka mengingatkan bahwa api tidak akan padam dengan sendirinya hanya karena seseorang sedang berduka. Mereka juga berjanji mengumpulkan bantuan untuk membangun kembali rumah keluarganya.

Belum genap dua minggu, kabar datang bahwa dana untuk membangun fondasi rumah telah terkumpul. Linus pun kembali ke lapangan untuk melanjutkan pemadaman.

“Berat rasanya, tapi sportivitas dan dukungan teman-teman yang saling bantu membuat saya bangkit,” ungkapnya.

Enam Bulan Lumpuh, Bantuan Datang dari Malaysia

Dua tahun kemudian, pada 2017, Linus kembali menghadapi ujian berat. Dalam sebuah operasi penyelamatan, ia dan timnya harus mengevakuasi orangutan jantan dengan bobot lebih dari 90 kilogram.

Karena efek obat bius terbatas, mereka berpacu dengan waktu untuk membawa satwa tersebut melewati medan gunung menuju kandang angkut di tepi jalan.

Dalam perjalanan, Linus terjatuh dan merasakan sakit hebat di punggungnya. Ia tetap melanjutkan tugas karena mengutamakan keselamatan tim dan satwa yang sedang dievakuasi.

Awalnya, kondisinya sempat membaik setelah mendapat suntikan pereda nyeri dari rekan-rekannya. Namun, tidak lama kemudian, ia tiba-tiba ambruk dan tidak mampu berdiri.

“Saya lumpuh, ada enam bulan tidak bisa berdiri. Sudah berobat ke dokter mana saja sampai uang habis,” kenangnya.

Dalam kondisi nyaris kehilangan harapan, pertolongan datang dari seorang kenalan di Malaysia. Keluarga sahabatnya itu menanggung biaya perjalanan dan pengobatan Linus. Ia berangkat menggunakan kursi roda dan menjalani perawatan intensif selama hampir sebulan di kawasan Petaling.

Perawatan tersebut membuat Linus mampu berjalan kembali. Ia bahkan pulang ke Indonesia dengan membawa ransel sendiri.

Belakangan, Linus memahami alasan di balik kebaikan keluarga tersebut. Beberapa tahun sebelumnya, ia pernah membantu mendampingi anak sahabatnya yang sedang menempuh pendidikan dokter hewan, tanpa meminta imbalan.

Sahabatnya tidak pernah menuntut balasan. Ia hanya berpesan agar Linus terus mengikuti kata hatinya.

Pengalaman itu semakin menguatkan Linus untuk melanjutkan pengabdian di dunia konservasi.

Api Kembali Mengancam, Pengabdian Belum Berakhir

Kini, sebelas tahun setelah kehilangan rumah dan kakeknya, Linus kembali berhadapan dengan ancaman api di Taman Nasional Tanjung Puting. Kawasan yang menjadi habitat orangutan tersebut kembali membutuhkan perhatian serius dalam penanganan karhutla 2026.

Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar penanganan kebakaran di kawasan itu mendapat perhatian khusus. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga meninjau langsung titik-titik penanganan karhutla bersama Pangdam XXII/Tambun Bungai.

Pemerintah menyiapkan pembukaan jalur darat dan pembangunan sumur bor untuk mempercepat pemadaman. Menteri Kehutanan turut berdialog secara virtual dengan para relawan guna membahas berbagai kendala, mulai dari sulitnya akses, kebutuhan peralatan dan logistik, hingga strategi penanganan api.

Pengendalian karhutla pun membutuhkan kerja bersama. Manggala Agni Kementerian Kehutanan bergerak bersama BNPB, BMKG, TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, Masyarakat Peduli Api, pelaku usaha, relawan, dan masyarakat.

Di tengah upaya tersebut, Linus tetap menjalankan perannya. Kehilangan, rasa sakit, dan pengalaman nyaris menyerah tidak membuatnya sepenuhnya meninggalkan jalan yang telah dipilihnya.

Baginya, menjaga hutan bukan hanya tentang memadamkan api atau menyelamatkan satwa. Ada ikatan panjang dengan alam, juga pelajaran tentang kehilangan, pertolongan, dan kekuatan untuk kembali bangkit.

Setiap pohon yang terselamatkan dan setiap satwa yang berhasil dievakuasi menjadi bagian dari pengabdian yang terus ia jalani. Api boleh kembali datang, tetapi bagi Linus, alasan untuk menjaga hutan belum pernah benar-benar padam. (LA-IN)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments