Sabtu, April 25, 2026
BerandaJakartaKementerian Ekraf Apresiasi Pameran Karya 3 Generasi

Kementerian Ekraf Apresiasi Pameran Karya 3 Generasi

Jakarta, Laksara.id – Kementerian Ekonomi Kreatif (Kementerian Ekraf) mengapresiasi koleksi Batik Oey Soe Tjoen sebagai batik tulis halus tertua yang sering diburu para kolektor internasional. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) Irene Umar turut mendorong pengrajin batik dari kalangan generasi muda untuk menjaga warisan budaya dan meningkatkan kualitas dalam industri kreatif melalui batik.

“Ini jadi suatu momen yang luar biasa bahwa ekonomi kreatif dan budaya itu saling berkaitan. Kami selalu menanamkan diplomasi budaya agar semua orang mengenal bahwa batik berasal dari Indonesia dan setiap motif punya cerita yang begitu khas. Apalagi melalui Pameran Karya 3 Generasi ini, ada 90 lembar kain batik yang bisa kita lihat karyanya,” kata Wamen Ekraf Irene saat menghadiri pembukaan Pameran Karya 3 Generasi Selama 100 Tahun di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta pada Jumat, 25 Juli 2025.

Batik Oey Soe Tjoen (Batik OST) merekam sejarah Indonesia melalui berbagai motif yang dipengaruhi budaya Jawa, peranakan Tionghoa, Eropa, Asia, dan Arab sejak tahun 1925 di Kedungweni, Pekalongan. Resmi berusia 100 tahun, perjalanan panjang merek batik OST mulai dikenal sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.

“Batik bukan hanya sebuah kain, tapi suatu perjalanan sejarah. Kita bisa melihat seperti apa evolusi dari berbagai budaya yang mempengaruhi dalam suatu kain batik. Mari kita ingat momen ini sebagai sesuatu yang sakral. Mari, kita sebarkan batik dari Indonesia ke seluruh dunia melalui diplomasi batik,” imbuh Wamen Ekraf Irene.

Pameran Karya 3 Generasi selama 100 tahun ini menjadi kesempatan bagi para penikmat batik untuk melihat keragaman motif dan warna yang menawan. Batik tulis halus yang semakin langka harus terjaga cerita keindahannya dari generasi ke generasi. Kementerian Ekraf juga senantiasa berkomitmen memberikan perlindungan terhadap batik tulis melalui jaminan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI).

“Hari ini, saya melihat ini adalah langkah menuju sejarah dan perkembangan, batik yang mengikuti perkembangan zaman. Melalui pameran ini, saya amati ada konsistensi kain batik tercipta dari 3 generasi dan setiap generasi memiliki perbedaan keunikan dan keaslian dari masing-masing pembatik. Saya paling suka dengan batik motif kupu-kupu dan ada warna pink,” ucap Wamen Ekraf Irene.

Sebagai bagian dari rangkaian OST 100 tahun Rumah Batik, para pejuang ekraf dapat melihat dan menyaksikan langsung Pameran Batik Oey Soe Tjoen di Galeri Emiria Soenassa TIM pada 25 Juli – 3 Agustus 2025. Tema pameran yang diangkat tahun ini yaitu Keteguhan Hati Merawat Warisan. Berarti, sehelai kain batik bisa menemukan potensi diplomasi dan evolusi budaya Indonesia agar generasi muda mampu melestarikan serta mempromosikan batik khas Indonesia secara global.

“Warisan bukan sekadar benda, tetapi juga dapat berupa kisah perjuangan, pengabdian, cinta, dan kehormatan yang dapat menginspirasi generasi berikutnya seperti melalui motif-motif batik Oey Soe Tjoen,” jelas Widianti Widjaja sebagai generasi ketiga pengelola OST Rumah Batik.

Dalam kegiatan itu Wamen Ekraf Irene turut didampingi Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Yuke Sri Rahayu serta Direktur Kriya Neli Yana. Tampak hadir pula Kolektor Batik Tulis, Sugijanto Herman Soetòpo dan para pencinta batik Indonesia. (LA-IN)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments