Denpasar, Laksara.id – Ketua Umum PGRI Bali, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, mengatakan bahwa pemanfaatan teknologi, terutama kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), diharapkan dapat mendorong kualitas dan akses masyarakat terhadap pendidikan.
“Penggunaan kecerdasan buatan dalam pembelajaran memiliki dampak yang signifikan, terutama dalam efisiensi waktu. Jika AI dipelajari dan dimanfaatkan dengan baik, maka proses pembelajaran dapat menjadi lebih efisien dan efektif,” kata Eddy Mulya, Rabu (15/1/2024).
Menurut Eddy Mulya, perkembangan teknologi sudah sangat maju. Indonesia perlu memperkenalkan teknologi-teknologi tersebut sejak dini agar generasi emas 2045 tercapai.
“Peserta didik memang disiapkan menjadi orang-orang yang memiliki kemampuan dalam kepemimpinan digital,” ujarnya.
“Kepemimpinan digital itu disiapkan sejak dini, tetapi tentu kita berharap, nanti, kepemimpinan digital yang disiapkan oleh peserta didik melalui muatan tambahan pengetahuan dan keterampilan di bidang teknologi dan informasi ini juga harus bersifat proporsional,” sebutnya.
Proporsional, dijelaskan Eddy Mulya, sesuai kelayakan dan level satuan pendidikan peserta didik. Dengan begitu, penerapan teknologi dapat dipahami secara proporsional. Demikian pula, ketika diberikan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), kemanfaatannya harus dapat mendorong kemajuan dunia pendidikan.
“Pun penerapan ChatGPT, jangan dijiplak 100 persen. Karena jika dijiplak 100 persen, daya dan pola pikir anak-anak sebagai peserta didik tidak akan berkembang untuk menyelesaikan permasalahan secara objektif,” ujarnya.
Karena itu, pemanfaatan ChatGPT hanya sebagai pemandu untuk mengarahkan pola pikir. Namun, pola pikir terpadu harus diciptakan secara mandiri melalui latihan dan keterampilan.
“Pola-pola pendekatan teknologi informasi saya harapkan hanya sebagai faktor enabler atau faktor pendukung dalam kemajuan dunia pendidikan menuju kepemimpinan digital,” ujarnya mengingatkan.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mulai merancang kebijakan pembelajaran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan coding sebagai bagian dari kurikulum mata pelajaran pilihan di sekolah. Kebijakan ini direncanakan mulai diterapkan di jenjang sekolah dasar (SD), dengan kemungkinan dimulai dari kelas 4 atau tingkat selanjutnya.
Coding adalah mata pelajaran yang mengajarkan dasar-dasar pemrograman komputer, seperti logika, algoritma, dan penulisan kode, untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas di era digital. (LA-IN)
