Senin, Oktober 5, 2026
BerandaDenpasarHotspot Karhutla Turun 605 Titik, Sumatera Selatan Kini Jadi Perhatian

Hotspot Karhutla Turun 605 Titik, Sumatera Selatan Kini Jadi Perhatian

Sumatera, Laksara.id – Jumlah titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional mengalami penurunan tajam. Namun, kondisi tersebut belum membuat kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diturunkan karena sejumlah wilayah masih menunjukkan peningkatan hotspot.

Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan hingga Sabtu (3/10) pukul 21.10 WIB, terdeteksi 666 hotspot high confidence secara nasional berdasarkan satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20.

Jumlah tersebut turun 605 titik dibandingkan pemantauan sehari sebelumnya yang mencatat 1.271 hotspot.

Namun, di tengah penurunan secara nasional, Sumatera Selatan justru menunjukkan peningkatan cukup signifikan. Provinsi tersebut mencatat 254 hotspot, naik dari 83 titik pada pemantauan sebelumnya.

Sementara itu, Kalimantan Tengah mencatat 96 hotspot, turun dari 355 titik. Kalimantan Barat juga mengalami penurunan dari 246 menjadi 26 titik.

Tiga provinsi lainnya, yakni Riau, Kalimantan Selatan, dan Jambi, masing-masing mencatat 32, 18, dan 3 hotspot. Sebelumnya, Riau dan Jambi tidak mencatat hotspot high confidence, sedangkan Kalimantan Selatan memiliki 42 titik.

Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas pengendalian karhutla mencatat 429 hotspot high confidence, turun dari 726 titik sehari sebelumnya.

Penurunan nasional menjadi perkembangan positif. Meski demikian, dinamika antarwilayah tetap perlu diperhatikan karena konsentrasi hotspot dapat berubah dengan cepat. Sumatera Selatan kini menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas.

Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot bukan berarti jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit. Satu kejadian kebakaran juga dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot.

Karena itu, setiap indikasi tetap perlu diverifikasi melalui groundcheck untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan dan menentukan respons penanganan.

Operasi Darat dan Udara Tetap Disiagakan

Meski hotspot menurun, operasi pengendalian karhutla tetap dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, serta pihak terkait lainnya.

Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara yang terdiri dari 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta 44 unit untuk operasi water bombing.

Penanganan di lapangan juga dilakukan melalui operasi darat, termasuk patroli, groundcheck, pemadaman, pembasahan, penyekatan penjalaran api, mopping up, dan pendinginan.

Perhatian khusus tetap diberikan terhadap lahan gambut. Bara dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan meskipun api di atas tanah sudah tidak terlihat. Karena itu, pembasahan dan pendinginan harus terus dilakukan sampai lokasi benar-benar dinyatakan aman.

Kondisi Udara Masih Dipantau

Selain perkembangan hotspot, pemerintah juga memantau kualitas udara berdasarkan konsentrasi PM2,5. Secara umum, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada kategori baik hingga sedang.

Namun, sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Papua masih menunjukkan kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Pada beberapa lokasi juga terdapat kategori berbahaya.

Kondisi udara dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran, konsentrasi partikulat, arah dan kecepatan angin, serta dinamika atmosfer lainnya.

Masyarakat di wilayah terdampak diminta mengikuti informasi kualitas udara dan arahan pemerintah daerah. Apabila kualitas udara memburuk, aktivitas di luar ruangan perlu dikurangi dan penggunaan masker dianjurkan apabila harus beraktivitas di luar.

Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.

Satwa Liar Ikut Jadi Perhatian

Karhutla juga berpotensi mengganggu habitat, sumber pakan, dan jalur pergerakan satwa liar. Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan unit terkait terus melakukan pemantauan serta penanganan terhadap satwa yang terdampak.

Penanganan dapat dilakukan berdasarkan kondisi satwa dan hasil asesmen lapangan, mulai dari evakuasi, pemeriksaan dan perawatan medis, rehabilitasi, translokasi, hingga pelepasliaran kembali apabila kondisi satwa dan habitatnya memungkinkan.

Masyarakat yang menemukan satwa liar terluka, terjebak, terdampak kebakaran, atau masuk ke permukiman diminta tidak melakukan penanganan maupun evakuasi secara mandiri.

Masyarakat diimbau menjaga jarak, menghindari tindakan yang dapat membuat satwa stres atau agresif, serta mencatat lokasi dan kondisi satwa apabila memungkinkan sebelum melaporkannya kepada BKSDA atau petugas kehutanan terdekat.

Kementerian Kehutanan juga kembali mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.

Penurunan hotspot secara nasional belum berarti ancaman karhutla berakhir. Kondisi di lapangan tetap dinamis dan dapat berubah mengikuti cuaca, kondisi lahan, serta aktivitas manusia. (LA-IN)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments