Rabu, September 30, 2026
BerandaJakartaHotspot Karhutla Naik 228 Titik, Kalimantan Tengah Jadi Perhatian

Hotspot Karhutla Naik 228 Titik, Kalimantan Tengah Jadi Perhatian

Jakarta, Laksara.id – Pergerakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menunjukkan peningkatan. Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Minggu (27/9/2026) pukul 21.10 WIB, terdeteksi 559 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence secara nasional.

Jumlah tersebut meningkat 228 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 331 hotspot.

Kenaikan paling mencolok terjadi di Kalimantan Tengah. Hotspot high confidence di provinsi tersebut melonjak dari 30 menjadi 134 titik. Kondisi ini membuat Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam penguatan operasi pengendalian karhutla.

Sementara itu, sejumlah provinsi lainnya menunjukkan pergerakan yang berbeda. Sumatera Selatan turun dari 38 menjadi 29 titik, sedangkan Kalimantan Selatan turun dari 40 menjadi 25 titik.

Sebaran hotspot high confidence di enam provinsi prioritas tercatat sebagai berikut:

  • Kalimantan Tengah: 134 titik, naik dari 30 titik
  • Sumatera Selatan: 29 titik, turun dari 38 titik
  • Kalimantan Selatan: 25 titik, turun dari 40 titik
  • Kalimantan Barat: 11 titik, naik dari 2 titik
  • Jambi: 5 titik, naik dari 1 titik
  • Riau: nihil hotspot, sama seperti sehari sebelumnya

Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas mencatat 204 hotspot high confidence, meningkat dari 111 titik pada pemantauan sebelumnya.

Kementerian Kehutanan menindaklanjuti perkembangan tersebut dengan verifikasi lapangan dan penguatan operasi, khususnya di Kalimantan Tengah. Patroli, groundcheck, pemadaman, pembasahan, mopping up hingga pendinginan terus dilakukan untuk mencegah api meluas maupun kembali menyala.

Meski demikian, jumlah hotspot tidak bisa langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran ataupun luas lahan yang terbakar. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit NASA Terra/Aqua, SNPP dan NOAA-20. Satu kejadian kebakaran bahkan dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot, sehingga setiap indikasi tetap membutuhkan verifikasi di lapangan.

Operasi Darat dan Udara Disiagakan

Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara untuk mendukung penanganan karhutla secara nasional. Sebanyak 17 unit digunakan untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sementara 44 unit lainnya dikerahkan untuk water bombing.

Dari jumlah tersebut, 55 unit mendukung operasi di enam provinsi prioritas. Enam unit water bombing lainnya ditempatkan untuk membantu wilayah terdampak lainnya.

Operasi udara berjalan bersamaan dengan operasi darat yang melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan, BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha dan berbagai pihak lainnya.

OMC juga tetap dilakukan sebagai bagian dari strategi pembasahan wilayah rawan. BMKG mencatat pelaksanaan OMC untuk pembasahan gambut dan penanganan karhutla di Kalimantan Tengah pada 22–27 September 2026 serta di Kalimantan Selatan pada 22–26 September 2026.

Kondisi Udara Perlu Dipantau

Dari pemantauan PM2,5, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, beberapa wilayah di Kalimantan menunjukkan kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Kondisi udara dan jarak pandang dapat berubah mengikuti konsentrasi partikulat, asap, angin dan cuaca. Di Pontianak, misalnya, prakiraan BMKG pada periode 27–28 September menunjukkan potensi udara kabur dan hujan ringan dengan jarak pandang sekitar dua kilometer.

BMKG juga mengeluarkan peringatan dini potensi hujan sedang hingga lebat di sejumlah provinsi prioritas, termasuk Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Riau dan Jambi.

Hujan dapat membantu proses pembasahan, namun kewaspadaan tetap diperlukan, terutama pada lahan gambut. Bara api dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali menyala meski kondisi di permukaan terlihat telah padam.

Satwa Liar Juga Terdampak

Karhutla tidak hanya berdampak pada masyarakat, tetapi juga dapat mengganggu habitat dan keselamatan satwa liar. Jika menemukan satwa yang keluar dari habitatnya atau berada di sekitar wilayah terdampak kebakaran, masyarakat diminta tidak menangkap maupun mengevakuasinya secara mandiri.

Masyarakat dapat menjaga jarak, mencatat lokasi dan kondisi satwa apabila memungkinkan, kemudian melaporkannya kepada Balai KSDA atau petugas kehutanan terdekat.

Bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap, pemantauan kualitas udara tetap penting. Jika kondisi memburuk, aktivitas di luar ruangan perlu dikurangi dan masker dapat digunakan ketika harus beraktivitas di luar.

Masyarakat dan pelaku usaha juga kembali diingatkan untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Setiap informasi mengenai asap, titik api atau aktivitas pembakaran dapat segera dilaporkan agar penanganan dilakukan sedini mungkin. (LA-IN)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments