Jatuh Bangun Akibat Pandemi, Perajin Batu Paras Karangasem Kini Bangkit Kembali

204 Views

Amlapura, LAKSARA.ID – Usaha kerajinan batu paras sempat mengalami pasang dan surut usaha, apalagi sebelumnya dunia dilanda pandemi Covid-19 sehingga sektor ekonomi sangat terdampak dan terseok-seok.

Hal inilah yang dialami I Ketut Suwirti, pemilik usaha sekaligus perajin batu paras yang terletak di Desa Jasri, Kabupaten Karangasem sebelah timur patung lembu. Ketut Suwirti membuka toko kerajinan batu paras yang menjual berbagai ukiran Bali.

“”Saya belajar ngukir dari yang sebelumnya sama sekali tidak bisa, hingga kemudian mahir seperti saat ini. Belajarnya ya di Gianyar” ucapnya Ketut Suwirti ketika ditemui di tokonya ‘Ketut Ukir Stone’ baru-baru ini.

Pria yang berasal dari Banjar Dinas Pejongan, Desa Seraya Tengah, Karangasem menyatakan, dirinya belajar mengukir sejak selesai menempuh pendidikan di SMP. Dikarenakan tidak memiliki biaya untuk melanjutkan ke jenjang SMA, akhirnya Ketut Suwirti mencoba untuk merantau ke Gianyar.

Sesampai di Gianyar, ia bekerja di beberapa tempat kerajinan batu paras di Gianyar. Setelah merasa memiliki kemampuan, ia kemudian mencoba untuk membuka usaha yang sama di Karangasem dengan bekal keahlian dan tekad yang kuat, dengan latar belakang supaya dapat bekerja dekat dengan keluarga, istri dan anak-anaknya.

“Saya mencoba membuka usaha kecil-kecilan pada saat itu. Awalnya saya coba buka usaha di Desa Seraya bersama teman kerja yang masih ada hubungan keluarga,” ujarnya.

Setelah beberapa lama berjalan, sayangnya usaha itu kemudian ditutup dikarenakan kurang strategis secara lokasi sehingga kurang mendapat respon dari warga. Tidak patah arah, Ketut Suwirti kemudian membuka usaha serupa di kawasan Jasri, Kecamatan Karangasem. Lagi-lagi, ia dihadang cobaan dikarenakan tengah masa pandemi Covid-19, sehingga usaha batu paras yang dijalankan Ketut Suwirti sangat terdampak dan sepi pembeli.

“Dikarenakan pandemi Covid-19 pada saat itu, membuat bisnis batu paras mengalami ujian berat. Pembeli sangat jarang mampir ke toko. Saat itu, mobilitas yang rendah dengan sedikitnya masyarakat yang berlalu lalang membuat saya hanya sedikit mendapatkan pembeli,” ucapnya.

Ketut Suwirti meneruskan, beruntung kemudian ini tidak berlarut-larut. Saat ini keadaan sudah kembali normal, sehingga ia kembali mendapatkan orderan atau pesanan. Setiap hari, ada saja yang mampir untuk melihat dan berbelanja di toko Ketut Suwirti.

Proses Pembuatan

Adapun proses dari pembuatan karya ukiran dari batu paras ini yang didatangkan dari Jogja ini adalah awalnya batu tersebut diukur dan disket sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Setelah itu, baru dibentuk dengan mengurangi material menggunakan teknik memahat. Akhirnya jadilah suatu desain yang indah dengan diperhalus kembali menggunakan pahat ataupun ampelas.

Biasanya Ketut Suwirti menerima pesanan dan juga menjual ukiran yang dipajang di toko. “Saya menerima pesanan dan juga menjual stok ukiran dan patung di toko dengan harga yang menyesuaikan dari ukuran, bentuk dan motif serta melayani pasang di tempat,” tambahnya

Ketut Ukir Stone, lanjutnya, menyediakan berbagai ukiran, patung, pandil, relief, loster dan berbagai jenis ukiran Bali lainnya. Terdapat pula ukiran cetak yang harganya jauh lebih murah dengan ukiran yang dipahat langsung. Harga yang dibandrol bisa menyesuaikan.

“Jadi bagi yang bingung mencari ukiran untuk mendekorasi rumah maupun bangunan lainnya agar terlihat megah dan indah, hubungi nomor saya (0852-3739-9504) atau langsung datang ke lokasi yang bertempat di Desa Jasri, Kec. Karangasem, Kab. Karangasem, Bali dari kota di sebelah Timur patung lembu,” ujar Ketut Suwirti mengakhiri keterangan. (LA-Yog)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *