Amlapura, LAKSARA.ID – Seni merupakan sesuatu yang dinikmati keindahannya, sama seperti yang dikerjakan oleh I Made Yosya yang bergelut di bidang seni bonsai. Beralamat di Jalan Sermanatih, Desa Susuan, Karangasem bersama keluarga kecilnya, istri dan 2 anaknya di rumah yang penuh dengan bonsai.
Keseharian Made Yosya membuat bonsai, pot, serta pilar bonsai yang ditekuni semenjak awal pandemi Covid-19 melanda dunia khususnya Indonesia, Bali. “Saya memulai bisnis ini di awal Corona muncul, dan lanjut karena pada saat pandemi bonsai booming, jadi saya menekuni sampai saat ini,” ucapnya ketika ditemui di rumahnya, Sabtu (7/1/2023).
Membuat bonsai yang ditekuni saat ini sudah menjadi hobinya sejak kecil, tetapi ia mengaku mulai serius menekuni bisnis bonsai semenjak pandemi Covid-19. Yosya awalnya belajar sendiri atau otodidak dengan latar belakang tidak ada pencinta seni bonsai di keluarga termasuk orang tuanya, namun ia terus belajar seni bonsai.
“Keluarga saya baik itu orang tua saya tidak ada yang bergelut di seni bonsai, tetapi saya sendiri yang hobi seni bonsai dari kecil,” ucapnya.
Bisnis bonsai yang ditekuni mulai di tahun 2020 saat awal Covid-19 mewabah, hingga kini terus berjalan dengan lancar, namun tentunya ada beberapa hambatan dalam usaha yang ditekuninya seperti ada beberapa bahan bonsai yang tidak mau tumbuh tunas batu gagal hidup. “Untuk kendala yang tergolong rumit hampir tidak ada, cuman ya itu kadang-kadang dari dongkel 5 bahan yang hidup bisa 3 atau 4. Tapi ya itupun tetap bersyukur,” ujarnya, bersemangat.
Adapun proses dalam pembuatan bonsai yang dimulai dari pendongkelan bahan di alam, pemotongan ranting-ranting, membersikan bekas potongan gergaji dengan pisau, lalu dibersihkan lagi dengan mencucinya sampai bersih tanpa bekas-bekas tanah yang berasal dari alamnya. Setelah itu ditanam menggunakan media pasir sungai atau pasir malang, selanjutnya didiamkan di tempat teduh dan lalu dibungkus menggunakan plastik untuk menjaga kelembabannya. Setelah beberapa minggu, pembungkus atau sungkupnya dibuka, namun itu juga menyesuaikan dengan jenis bahan bonsainya. Setelah tumbuh, baru diprogram akar dan daun serta batangnya menggunakan kawat.
Untuk pemasaran bonsainya sendiri Made Yosya mengandalkan medsos sebagai media promosi hingga kemudian diketahui masyarakat luas. “Saya memasarkannya melalui medsos dan pada akhirnya bisa menyebar dari mulut ke mulut,” ucapnya.
Ada banyak jenis bonsai dengan berbagai ukuran di halaman rumah Made Yosya yang sekaligus digunakan sebagai kebun bonsai, dengan rentang harga jual mulai dari Rp500 ribu sampai 4 jutaan ribu rupiah per pohonnya. Adapun bonsai yang kini sedang hits, disebutkan antara lain jenis kimeng dan sancang.
Ditanya tentang harapan ke depannya, Yosya mengatakan, bisnis yang selama ini ditekuni untuk menafkahi keluarga, diharapkan menjadi lebih baik dan lebih sukses lagi di masa mendatang. (LA-Yog)
