Sabtu, April 25, 2026
BerandaBulelengTempe di Tengah Era Modernisasi, Hairudin Tetap Lestarikan Cara Tradisonal Turun Temurun

Tempe di Tengah Era Modernisasi, Hairudin Tetap Lestarikan Cara Tradisonal Turun Temurun

Buleleng, Laksara.id – Di tepi pesisir Pantai Taman Sari, aroma khas  siapa saja yang tengah difermentasi menyambut saja yang melintas di Jalan Pulau Sugara Kelurahan Kampung Baru. Kawasan  ini tidak hanya dikenal dengan pemandangan lautnya, namun juga sebagai sentra produksi tempe  yang telah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Di antara rumah-rumah warga yang padat, berdiri  usaha tempe milik Hairudin, seorang pengusaha lokal yang telah mengabdikan hidupnya pada  makanan protein nabati sejak usia belia. 

Usaha yang kini dikelolanya merupakan warisan sang ayah yang mulai dirintis sejak  tahun 1970. “Saya sudah dari muda ikut bantu orang tua bikin tempe. Sampai sekarang tetap  saya lanjutkan,” ujar Hairudin saat ditemui pada Jumat, (5/9).

Di usianya yang menginjak 57  tahun, semangatnya untuk menjaga cita rasa tempe tradisional tak pernah surut. Apalagi ia  melibatkan enam tetangganya sebagai karyawan. Tiga untuk membantu proses produksi tempe,  tiga lainnya untuk tahu, produk sampingan berbahan dasar kedelai yang juga ia produksi. 

Kabupaten Buleleng sendiri dikenal sebagai wilayah yang mendorong pertumbuhan  UMKM lokal. Berdasarkan klasifikasi data usaha yang bersumber pada satu data Pemkab. Buleleng, jumlah usaha kecil di Buleleng meningkat dari sekitar 9.576 pada tahun 2020 menjadi 12.107 pada tahun 2024. Lingkungan yang mendukung ini juga memberikan ruang bagi usaha-usaha rumahan seperti milik Hairudin untuk bertahan dan berkembang. 

Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Perdagangan, Perindustrian,  Koperasi dan UKM (Disdagperinkop UKM) aktif memfasilitasi pelatihan dan pendampingan  agar UMKM lebih berdaya saing. Dulu, tempe buatan Hairudin dibungkus dengan daun pisang yang memberi aroma khas dan kesan alami. Kini, bungkus plastik menjadi pilihan utama karena lebih praktis dan mudah didapat. 

Namun demikian, proses pembuatan tempe masih mempertahankan unsur manual  yang diwariskan secara turun-temurun. Mesin hanya digunakan untuk beberapa tahap, seperti  menggiling kedelai atau mengaduk adonan. “Kita tetap memakai cara lama. Tapi untuk efisiensi  waktu, beberapa proses dibantu mesin,” jelasnya. 

Proses pembuatan tempe dimulai dari merendam dan merebus kedelai, mengupas  kulitnya, lalu dikeringkan sebelum dicampur dengan ragi. Menariknya, Hairudin menggunakan  dua jenis ragi sekaligus, yaitu ragi instan dan ragi alami yang berasal dari pohon waru. Campuran  tersebut kemudian dibungkus dan disimpan untuk fermentasi selama empat hari. “Kalau cuaca  cerah, tempe jadi lebih cepat. Tapi kalau mendung, fermentasinya lambat, jadi raginya saya  tambah,” ujarnya. 

Hairudin memproduksi sekitar 100 kilogram tempe setiap harinya. Penjualannya  menjangkau berbagai lapisan masyarakat, mulai dari warga sekitar yang membeli langsung ke  rumah produksi hingga pedagang pasar yang datang membeli dalam jumlah besar. Selain itu, ia  juga menerima pesanan secara online. Beberapa kali ia bahkan mengirim pesanan dalam jumlah  besar ke luar wilayah pusat kota, seperti Lovina dan Bebetin. “Itu yang paling jauh aku pernah  antar,” ucapnya.  

Harga jualnya pun bervariasi sesuai ukuran, untuk tempe berukuran kecil dihargai sebesar  Rp4.000, ukuran sedang Rp7.000, dan ukuran besar seharga Rp9.000 per potong sehingga dapat  dijangkau oleh konsumen dari berbagai kalangan. Salah satu pelanggan tetapnya, Ketut Eti  mengaku telah membeli tempe dari Hairudin selama bertahun-tahun. “Tempe Pak Hairudin itu  beda rasanya, lebih gurih dan awet. Saya sudah coba beli dari tempat lain, tapi tetap balik lagi ke  sini,” ujarnya. 

Meski proses pembuatan tempe belum bisa sepenuhnya dimodernisasi, terutama karena  belum ada alat yang dapat mempercepat fermentasi Hairudin tetap optimis. Ia berharap kelak  anak cucunya mau melanjutkan usaha keluarga ini. “Saya ingin usaha ini tetap jalan, jangan  sampai berhenti di saya. Ini warisan keluarga,” ungkapnya. 

Di tengah derasnya arus modernisasi,  Hairudin membuktikan bahwa tradisi bisa tetap hidup jika diiringi semangat menjaga kualitas,  kesederhanaan, dan ketulusan. Tempenya bukan sekadar makanan, melainkan hasil kerja  keras dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. (LA-IN)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments