Depasar, Laksara.id – Bunga Daisy kini tidak lagi sekadar simbol keindahan dan kepolosan. Dalam beberapa bulan terakhir, bunga ini muncul sebagai elemen visual utama dalam berbagai bentuk aksi senyap yang dilakukan oleh kelompok perempuan. Tanpa spanduk, orasi, atau kericuhan, aksi ini berlangsung damai namun penuh makna.
Rangkaian bunga Daisy diletakkan di ruang publik, dibagikan secara diam-diam, bahkan disematkan di pakaian atau aksesori para peserta yang memilih diam sebagai bentuk perlawanan. Pesan yang disampaikan tak tertulis, tetapi kuat: menolak kekerasan, menuntut perlindungan, dan memperjuangkan kesetaraan.
Fenomena ini muncul sebagai respons terhadap berbagai bentuk ketimpangan dan ketidakadilan yang dirasakan perempuan, terutama dalam konteks sosial, hukum, dan ekonomi. Penggunaan bunga Daisy dianggap sebagai medium yang lembut namun tegas, simbol femininitas yang justru dijadikan alat ekspresi kekuatan.
Media sosial turut memperkuat penyebaran simbol ini. Foto-foto perempuan mengenakan bunga Daisy sebagai bros, ikat kepala, bahkan topeng, tersebar luas dengan tagar tertentu yang mengarah pada kesadaran kolektif. Meskipun tidak semua aksi ini diorganisasi secara formal, pola penggunaan bunga sebagai simbol perlawanan menunjukkan adanya jejaring komunikasi yang tersembunyi namun solid.
Bunga Daisy dipilih bukan tanpa alasan. Dalam sejarah budaya populer, bunga ini kerap diasosiasikan dengan harapan dan kemurnian. Namun kini, maknanya berkembang menjadi representasi dari suara yang selama ini terbungkam lembut, tetapi tak bisa diabaikan.
Sejauh ini, aksi senyap dengan bunga Daisy belum mendapat tanggapan langsung dari pihak-pihak yang menjadi sasaran kritik. Namun, kehadirannya yang konsisten dalam berbagai momentum publik menandakan bahwa gerakan ini tumbuh dan diterima, setidaknya di antara mereka yang merasa terhubung secara emosional dan ideologis.
Dengan memilih keheningan sebagai alat perjuangan, kaum perempuan yang terlibat dalam aksi ini tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menunjukkan cara baru dalam melawan: tanpa bentrokan, tanpa suara, namun penuh makna. Bunga Daisy kini tak hanya tumbuh di taman, tetapi juga di ruang-ruang perlawanan yang sunyi namun nyata. (LA-IN)
