Buleleng, Laksara.id – Dalam upaya memperkenalkan kembali warisan budaya lokal kepada generasi muda, UPTD Gedong Kirtya terus menggencarkan program “Museum Masuk Sekolah”. Program ini bertujuan untuk mengenalkan kekayaan lontar dan aksara Bali kepada siswa sekolah dasar, agar mereka lebih memahami dan mencintai budaya leluhurnya.
Kepala UPTD Gedong Kirtya, Dewa Ayu Putu Susilawati, saat dihubungi, Jumat (6/6) mengatakan bahwa program ini sangat penting karena masih banyak siswa yang belum mengetahui keberadaan Gedong Kirtya dan nilai-nilai warisan budaya yang tersimpan di dalamnya.
“Warisan budaya berupa lontar adalah bukti kehebatan leluhur kita. Pengetahuan dan kearifan lokal yang mereka miliki luar biasa. Harapannya, melalui program ini siswa dapat mengenal, memahami, dan merasa bangga terhadap kekayaan budaya tersebut,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaannya, program ini tidak hanya berisi materi sejarah dan pengenalan museum, tetapi juga melibatkan berbagai aktivitas menarik. Siswa diajak menonton video profil Gedong Kirtya, belajar mengenal dan menulis aksara Bali di atas daun lontar, hingga menyanyikan lagu-lagu tradisional Bali seperti Juru Pencar dan Meong meong. Kegiatan menulis di atas lontar itu memberi pengalaman baru yang menyenangkan bagi siswa, karena sangat berbeda dibandingkan menulis di kertas biasa.
Antusiasme siswa dan guru terhadap program ini sangat tinggi. Banyak di antara mereka yang bahkan berharap kunjungan berikutnya bisa kembali dilakukan. “Mereka sangat berterima kasih dan mohon agar kami datang kembali. Guru dan kepala sekolah pun sangat mengapresiasi,” tambahnya.
Tahun ini, program telah mencakup 18 sekolah dasar di wilayah Kecamatan Buleleng. UPTD Gedong Kirtya melakukan koordinasi sejak bulan April, dengan melibatkan pihak kecamatan untuk memastikan program berjalan tanpa mengganggu kegiatan belajar mengajar.
Meski terbatas oleh pendanaan, pihak Gedong Kirtya tetap berkomitmen untuk melanjutkan program secara berkelanjutan. Apalagi pada tahun sebelumnya, program sempat menyasar tingkat SMP.
Dari sisi jalan, disampaikan bahwa sejak program ini berjalan, terjadi peningkatan signifikan dalam jumlah kunjungan ke museum. Dari angka 500-700 kunjungan saat masa pandemi, kini melonjak menjadi lebih dari 7.000 pengunjung per tahun. Hingga Mei 2025 saja, sudah tercatat sekitar 2.500 kunjungan.
Selain program edukatif tersebut, Gedong Kirtya juga tengah merencanakan kegiatan budaya lainnya, seperti Pameran Rempah yang rencananya akan diadakan pada Oktober mendatang. Kegiatan ini akan membahas rempah dari berbagai perspektif seperti sejarah, upacara, kesehatan tradisional (usadha), hingga kajian ilmiah tentang kandungan kimianya. Kegiatan ini juga akan disertai seminar ilmiah yang melibatkan sejumlah pakar.
Dipenghujung, berharap dengan program ini dapat menjangkau lebih banyak sekolah dan menggerakkan lebih banyak siswa untuk datang langsung ke museum bersama keluarga atau sekolah mereka. Menurutnya generasi muda tidak hanya sekedar memamerkan budayanya, tetapi juga bangga dan berkontribusi melestarikannya.
Gedong Kirtya adalah satu-satunya museum lontar di Indonesia yang masih hidup. Ini aset berharga yang harus kita jaga bersama, tutupnya. (LA-IN)
