Sabtu, September 5, 2026
BerandaDenpasarGubernur Koster: AI Tak Boleh Menggantikan Kecerdasan Budaya

Gubernur Koster: AI Tak Boleh Menggantikan Kecerdasan Budaya

Denpasar, LAKSARA.ID – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) harus berjalan beriringan dengan kecerdasan manusia dan kecerdasan budaya. Teknologi dinilai tidak boleh menghilangkan nilai, identitas, tradisi, serta karakter masyarakat Bali.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Koster saat membuka Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (TI IPLBI) ke-14 di Aula Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar, Jumat (4/9/2026). Dalam kegiatan tersebut, Koster juga hadir sebagai pembicara utama atau keynote speaker.

TI IPLBI ke-14 mengusung tema “Kecerdasan Budaya untuk Lingkungan Binaan Berkelanjutan: Kecerdasan Buatan, Konteks Lokal, dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan”.

Dalam paparannya, Koster menekankan AI harus ditempatkan sebagai instrumen yang memperkuat kecerdasan manusia dan kecerdasan budaya, bukan menggantikannya.

“Kecerdasan buatan tidak boleh menggantikan kecerdasan budaya. Justru kecerdasan buatan harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat kecerdasan manusia dan kecerdasan budaya,” tegasnya.

Menurut Koster, prinsip tersebut penting dalam pengembangan lingkungan binaan Bali di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perubahan iklim, ancaman bencana, serta berbagai tantangan pembangunan di masa depan.

Karena itu, pembangunan Bali harus tetap berpijak pada karakter dan jati diri Bali sebagaimana diarahkan dalam Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun 2025–2125. Pembangunan tersebut diarahkan untuk menjaga keberlanjutan Alam Bali, Manusia Bali, dan Kebudayaan Bali.

Nilai-nilai Sad Kerthi juga dinilai perlu ditempatkan sebagai landasan etis dan ekologis dalam pengembangan lingkungan binaan Bali. Dengan pendekatan tersebut, pembangunan tidak hanya berorientasi pada kemajuan fisik, tetapi juga menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kebudayaan.

Dorong Riset Pengetahuan Lokal Bali

Koster secara khusus mendorong perguruan tinggi dan para peneliti untuk terus menggali serta mengembangkan pengetahuan lokal Bali, termasuk Arsitektur Tradisional Bali dan Subak, melalui riset, inovasi, serta pemanfaatan teknologi.

“Modernisasi berbasis kebudayaan bukan kembali ke masa lalu, tetapi membawa nilai-nilai terbaik masa lalu untuk menjawab tantangan masa depan,” ujarnya.

Ia juga meminta agar riset mengenai lingkungan binaan tidak berhenti pada publikasi ilmiah. Hasil penelitian diharapkan dapat diterjemahkan menjadi solusi konkret, mulai dari prototipe, desain, standar, kebijakan, teknologi hingga model pembangunan yang dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk mewujudkan lingkungan binaan Bali yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim serta bencana. Di sisi lain, pembangunan juga diharapkan semakin hijau, rendah karbon, dan berkelanjutan.

Untuk mewujudkannya, Koster menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, arsitek, perencana, dunia usaha, desa adat, masyarakat, dan generasi muda.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membangun ekosistem inovasi lingkungan binaan sekaligus menjadikan Bali sebagai laboratorium pengembangan lingkungan binaan masa depan yang mempertemukan kemajuan teknologi dan AI dengan kebudayaan, pengetahuan lokal, serta prinsip keberlanjutan.

“Bali 100 Tahun bukan hanya proyek pembangunan. Bali 100 Tahun adalah proyek peradaban,” tegas Koster.

TI IPLBI ke-14 Berlangsung 3–5 September

Ketua Panitia TI IPLBI ke-14, Prof. Ni Ketut Agusintadewi, menyampaikan bahwa Temu Ilmiah IPLBI menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif, gagasan, hasil penelitian, dan praktik mengenai masa depan lingkungan binaan.

Menurutnya, TI IPLBI ke-14 diarahkan untuk mendorong kolaborasi antara teknologi, lokalitas, dan budaya secara kontekstual serta saling melengkapi, khususnya dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan lingkungan binaan di masa depan.

Rangkaian TI IPLBI ke-14 berlangsung selama tiga hari, 3–5 September 2026. Sejumlah agenda digelar, meliputi seminar nasional, masterclass fenomenologi dan AI, workshop, lomba fotografi, penerbitan buku, serta field trip arsitektur.

Prof. Ni Ketut Agusintadewi berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat kapasitas dan jejaring akademik sekaligus melahirkan penelitian serta praktik lingkungan binaan yang berkualitas, inovatif, dan berkelanjutan tanpa kehilangan karakter lokal.

Turut hadir Ketua IPLBI Periode 2024–2027 Dr. Ir. Susilo Kusdiwanggo bersama para peneliti, akademisi, arsitek, perencana, praktisi, serta peserta TI IPLBI ke-14. (LA-IN)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments