Denpasar, Laksara.id – Di tengah geliat tren tanaman hias yang terus berkembang, nama Scabiosa mulai menarik perhatian para pecinta bunga di tanah air. Dikenal dengan julukan “pincushion flower” atau bunga peniti, Scabiosa memikat dengan bentuknya yang unik, menyerupai bantalan jarum berhiaskan benang-benang halus di tengah kelopaknya.
Tanaman ini berasal dari kawasan Mediterania dan Eropa Timur, namun perlahan mulai beradaptasi dengan baik di iklim tropis seperti Indonesia. Keindahan bentuknya yang lembut namun khas, ditambah dengan variasi warna mulai dari ungu muda, biru, hingga putih dan merah muda, menjadikan Scabiosa pilihan ideal untuk taman rumah, pot hias, hingga buket bunga potong.
Tidak hanya cantik, Scabiosa juga dikenal tahan lama saat dijadikan bunga potong. Karakter ini membuatnya banyak digunakan sebagai elemen dekoratif dalam pernikahan, acara formal, hingga karangan bunga hadiah. Di kalangan pehobi tanaman hias, Scabiosa digemari karena perawatannya yang relatif mudah dan kemampuannya menarik kupu-kupu serta lebah, menjadikannya ramah lingkungan dan bermanfaat bagi ekosistem sekitar.
Selain nilai estetikanya, Scabiosa juga mengandung makna simbolik dalam dunia florikultura. Dalam bahasa bunga, Scabiosa sering diasosiasikan dengan cinta yang tidak terbalas dan kesetiaan yang diam. Meski terkesan sendu, makna tersebut justru memperkuat pesona klasiknya yang penuh nuansa dan kedalaman.
Di beberapa daerah dataran tinggi Indonesia, bunga ini mulai dibudidayakan secara terbatas oleh para petani muda sebagai alternatif baru dalam pasar florikultura. Tanaman ini dapat tumbuh subur pada suhu 18–25 derajat Celsius dengan pencahayaan matahari penuh dan drainase yang baik.
Dengan perpaduan antara keindahan bentuk, kemudahan perawatan, dan nilai simbolik, Scabiosa diyakini akan terus tumbuh sebagai salah satu primadona baru dalam dunia tanaman hias. Si bunga peniti ini tidak hanya mempercantik ruang, tetapi juga menghadirkan nuansa tenang dan elegan bagi siapa pun yang memandangnya. (LA-IN)
