Kamis, April 30, 2026
BerandaDenpasarUbud Village Jazz Festival 2025 Siap Digelar, Angkat Tema 'Langit & Bumi'

Ubud Village Jazz Festival 2025 Siap Digelar, Angkat Tema ‘Langit & Bumi’

Denpasar, LAKSARA.ID — Nuansa budaya Ubud kembali akan diwarnai oleh alunan musik jazz dari berbagai penjuru dunia dalam perhelatan Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2025, yang dijadwalkan berlangsung pada 1–2 Agustus 2025. Informasi tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Teroemboe Resto, Sanur, pada Jumat (25/7/2025).

Festival jazz tahunan ini akan menghadirkan jajaran musisi dari Indonesia, Vietnam, Jerman, Prancis, Rusia, Jepang, Serbia, serta kolaborasi lintas negara Jerman–Ceko–Serbia. Selama dua hari penyelenggaraan, para pengunjung akan disuguhi berbagai sub-genre jazz, mulai dari swing hingga jazz eksperimental, yang tersebar di dua panggung utama yaitu Stage Giri (Langit) dan Stage Subak (Bumi). Kedua panggung tersebut menjadi representasi dari tema utama festival tahun ini, yaitu Langit & Bumi.

Dukungan Internasional dan Peran Talenta Lokal

General Manager Sthala Ubud Bali (Marriott International), Lasta Arimbawa, menyampaikan optimisme terhadap pelaksanaan UVJF 2025 yang telah memasuki tahun ketiga penyelenggaraan di kawasan Sthala.

“Kami memilih Teroemboe sebagai lokasi konferensi pers karena aksesibilitasnya serta merupakan bagian dari keluarga besar Sthala. Kualitas pelayanan tetap kami jaga sesuai dengan standar internasional,” ujarnya.

Sementara itu, Co-founder UVJF, Yuri Mahatma, mengungkapkan bahwa keterlibatan musisi lintas negara tahun ini menjadi tantangan tersendiri bagi penyelenggara. Ia menegaskan komitmen panitia untuk tetap memberikan ruang bagi talenta muda Indonesia.

“Tahun ini, kami menghadirkan musisi muda berbakat seperti Mahanada yang baru berusia 15 tahun, serta Gayatri dan musisi senior Mas Boggie Prasetyo dari Jazz Traveler,” jelas Yuri.

Musisi jazz senior Boggie Prasetyo menyatakan kebanggaannya dapat kembali tampil di UVJF sejak pertama kali tampil pada tahun 2014.

“Festival ini konsisten menjaga idealismenya dengan tetap menghadirkan jazz murni, meskipun genre ini sering dianggap sebagai musik minoritas,” ungkap Boggie.

Senada dengan itu, vokalis jazz Gayatri mengapresiasi pendekatan festival yang murni menampilkan genre jazz secara utuh.

“Komitmen seperti ini jarang ditemukan pada festival musik lainnya di Indonesia,” tuturnya.

Musisi muda Mahanada pun menyampaikan antusiasmenya untuk tampil perdana dalam ajang internasional tersebut.

“Saya akan membawakan beberapa karya dari album saya dengan aransemen khusus. Ini adalah sebuah kehormatan besar,” ucapnya.

Festival Ramah Lingkungan dengan Konsep ‘Nyegara Gunung’

Konsep artistik UVJF 2025 mengangkat nilai-nilai lingkungan melalui tema ‘Nyegara Gunung’, yang menjadi dasar desain tata ruang dan program pendukung festival. Hal ini dijelaskan oleh desainer konsep UVJF 2025, Klick dan Dina.

“Untuk mengurangi sampah plastik dan kertas, kami meniadakan penggunaan gelas sekali pakai. Sebagai gantinya, pengunjung akan menggunakan gelas khusus yang dapat dipakai ulang dengan sistem deposit sebesar Rp10.000. Kami juga menyediakan fasilitas pengisian ulang tumbler dengan skema pay as you wish,” jelas Dina.

Lebih lanjut, isu kualitas udara turut diangkat dalam desain dan elemen visual festival. UVJF 2025 juga menggandeng komunitas layang-layang, Kite Community yang dipimpin Kadek Armika, sebagai bagian dari penguatan visual tema “langit”.

“Sudah seharusnya festival-festival di Indonesia mulai menerapkan sistem yang ramah lingkungan,” tambah Klick.

Komitmen Komunitas di Atas Kepentingan Komersial

Co-founder UVJF lainnya, Anom Darsana, menegaskan bahwa sejak awal UVJF dibangun atas dasar semangat komunitas, bukan orientasi keuntungan.

“Selama 12 tahun, kami tidak pernah mengejar keuntungan. Tak satu pun dari kami hidup dari festival ini. Namun semangat kami tidak pernah padam,” tegasnya.

UVJF tetap menjaga kerja sama dengan mitra yang memiliki visi serupa. Tahun ini, Sora System dari Solo kembali dipercaya sebagai penyedia sistem suara di panggung utama.

Antusiasme Pengunjung dan Dampak Ekonomi

Penyelenggara menargetkan jumlah pengunjung sebanyak 3.400 orang, meningkat 20% dari tahun sebelumnya. Seluruh kamar di Hotel Sthala dilaporkan telah terisi penuh selama periode festival, menunjukkan antusiasme tinggi dari wisatawan dan pencinta musik jazz.

Dengan perpaduan antara musikalitas, idealisme komunitas, dan kepedulian terhadap lingkungan, Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025 diproyeksikan menjadi salah satu perhelatan musik jazz paling berkesan tahun ini.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments