Buleleng, Laksara.id – Fenomena di tengah riuhnya getaran zaman ketika jari lebih sering menyentuh layar daripada dada sendiri, manusia hidup dalam terang teknologi namun sering kehilangan cahaya batin. Notifikasi berbunyi nyaris tanpa jeda, informasi mengalir tanpa sempat direnungi, dan identitas digital perlahan menggantikan jati diri sejati. Demikian disampaikan Luh Irma Susanthi selaku Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kab. Buleleng, dikonfirmasi, Sabtu,(17/1).
Dilanjutkan, kisah Lubdaka adalah hasil mahakarya Mpu Tanakung, yang menyimpan banyak nilai kehidupan, tetapi yang penting dipahami sesungguhnya dari cerita Lubdhaka merupakan simbolik tentang ajaran Ketuhanan dalam Hindu, diterjemahkan bahwa Pemburu itu sesungguhnya asas dasar manusia, dimana sebagai pemburu cahaya, pemburu Ketuhanan.
“Bahwa setiap manusia di dunia ini wajib berburu kelimpahan, esensi Ketuhanan. Itu sebabnya mengapa yang diburu binatang. Sifat kebinatangan itulah yang diburu. Binatang juga disebut satwa itu juga bisa menyampaikan pemusnahan sifat buruk menuju sifat-sifat kebaikan dan itulah yang harus dimunculkan dalam dirinya, jadi Siwaratri itu sesungguhnya malam perenungan bagi umat Hindu untuk mendengarkan dan menyadari siapa jati dirinya agar maturur ikang atma ri jatinya atau dialog antara jiwa dan kesejatiannya,” jelas Irma.
Ditambahkan Irma, Siwaratri menjadi malam refleksi, bukan untuk menghakimi diri, tetapi untuk menyadari di mana kita kehilangan arah. (LA-IN)
